Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Daftar Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Dunia

Profil Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Dunia The Muslim 500Emir pemimpin Qatar menjadi tokoh muslim paling berpengaruh nomor satu di dunia pada 2022 versi themuslim500 dot com. Emir Qatar yang dimaksud adalah Tamim bin Hamid Al-Thani yang merupakan anggota dinasti Al-Thani.

Sementara pada urutan kedua diduduki Raja Arab Saudi Salman bin Abdul-Aziz Al-Saud yang mulai menjabat sebagai raja ketujuh dari Kerajaan Arab Saudi mulai bulan Januari 2015, setelah wafatnya sang ayah Raja Abdullah bin Abdul-Aziz.

Di peringkat ketiga ditempati Ayatollah Hajj Sayyid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Peringkat keempat diduduki Presiden Turki Tayyip Erdogan yang menjadi presiden Turki selama 11 tahun, dari tiga kali pemilihan pada 2002, 2007, dan 2011.

Berikut daftar Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Dunia versi The Muslim 500 :

1. Tamim bin Hamid Al-Thani
2. Salman bin Abdul-Aziz Al-Saud
3. Ayatollah Hajj Sayyid Ali Khamenei
4. Recep Tayyip Erdogan
5. Abdullah II Ibn-Al-Hussen
6. Muhammad Taqi Usmani
7. HM King Mohammed VI
8. Mohammed bin Zayed Al-Nahyan
9. Sayyid Ali Hussein Sistani
10. Imran Khan
11. Habib Umar bin Hafiz
12. Salman Al-Ouda
13. Joko Widodo
14. Ahmad Muhammad Al-Tayyeb
15. Muhammad bin Salman bin Abdul-Aziz Al-Saud
16. Abdullah bin Bayyah
17. Muhammadu Buhari
18. Muhammad Sa'adu Abubakar III
19. Said Aqil Siradj
20. Ali Gomaa

Abdullah II Ibn-Al-Hussein yang ada di peringkat kelima, merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Adapun Joko Widodo di urutan ke-13 yaitu Presiden Indonesia, dan Said Aqil Siradj di urutan ke 19 adalah mantan ketua PB NU dari Indonesia. Demikian daftar Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Dunia versi The Muslim 500.

Profil Gus Iqdam Kholid | Pendakwah Viral asal Blitar

Profil Gus Iqdam Kholid | Pendakwah yang Tengah Viral asal BlitarGus Iqdam atau Muhammad Iqdam Kholid, yang lahir 27 September 1994, merupakan putra bungsu pasangan Kiai Haji Kholid dan Hajah Lanratul Farida. Orang tua Gus Iqdam adalah pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam di Blitar Jawa Timur.

Gus Iqdam mendapat didikan dari kedua orang tua dan lingkungannya. Gus Iqdam juga belajar agama kepada pamannya Dliyauddin Azzamzami. Setelah itu, Gus Iqdam melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri Jawa Timur.

Setelah menyelesaikan pendidikan agamanya, Gus Iqdam mendirikan majelis ilmu, yang dinamai dengan Majelis Ta’lim Sabilu Taubah pada tahun 2018. Mulanya, Majelis Sabilu Taubah yang beliau dirikan hanya beranggotakan 7 jemaah saja.

Berkat cara dakwahnya yang unik dan merakyat, jemaahnya kian bertambah hingga ribuan dari seluruh Indonesia. Penamaan Majelis tersebut adalah harapan agar majelis itu bisa menjadi rumah taubat, & rumah memperdalam ilmu agama bagi siapa saja.

Dakwah Gus Iqdam selama ini tidak hanya di kalangan santri saja. Beliau juga merangkul orang-orang jalanan, kaum marginal, bahkan kaum kriminal. Semua kalangan dirangkulnya dengan lembut, dan pesan agama yang tak terkesan memaksa atau menggurui.

Atas kerendahan hatinya, Gus Iqdam kini banyak digandrungi tidak hanya para santri pondok pesantren saja, tapi juga banyak digandrungi para anak muda. Demikian sekelumit profil Gus Iqdam, pendakwah yang tengah viral asal Blitar. Terima kasih.

Profil Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi

Biografi Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi | Sejarah Kitab Simtudduror dan Masjid Riyadh SoloHabib Ali Al-Habsyi lahir pada Jumat 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut, dari pasangan Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri.

Habib Ali Al-Habsyi dikenal juga dengan nama Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi atau Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi.

Lahir dari keluarga dengan dasar agama Islam yang kuat membuat Habib Ali Al-Habsyi mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin di usia remaja. Sehingga Ia diizinkan para gurunya untuk memberikan ceramah dan kajian di hadapan khalayak umum.

Habib Ali juga mengumpulkan, menampung, mengarahkan, dan mendidik para siswa untuk belajar agama Islam secara menyeluruh. Untuk menampung mereka, dibangun nya Masjid Riyadh di kota Seiwun yang dilengkapi dengan asrama serta sarana dan prasarana yang mendukung.

Kemasyhuran Habib Ali Al Habsyi dalam mengajarkan agama begitu terkenal, mulai dari tempat tinggalnya sendiri, Afrika, sebagian besar wilayah Asia, hingga Indonesia. Ajaran Habib Ali Al Habsyi banyak dibukukan. Habib Ali merupakan seorang tokoh agama Islam pengarang kitab Simtudduror.

Karyanya yaitu catatan kecil yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang berjudul Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar atau Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya.

Habil Ali Al Habsyi meninggal di Seiwun, Hadramaut pada hari, Ahad 20 Rabi'ul Akhir 1333 H. Habib Ali memiliki putra bernama Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Putranya ini menetap di Solo dan mendirikan Masjid Riyadh di Solo.

Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi pun meneruskan ajaran yang dia dapat dari ayahnya dengan mendirikan masjid Riyadh di Solo. Peringatan haul ayahandanya diperingati di Solo. Seiring berjalannya waktu, haul untuk memperingati Habib Ali disebut Haul Solo.

Haul Habib Ali setiap tahunnya digelar di kompleks Masjid Ar-Riyadh Solo, Sebuah masjid kecil dengan zawiyah atau tempat untuk majelis ilmu di pojokan masjid. Karena terbatasnya tempat, para tamu haul membludak sampai ke sepanjang Jalan Kapten Mulyadi.

Khalaf bin Khalifah - Tokoh Tabi'in Terakhir Wafat

Khalaf bin Khalifah - Tokoh Tabi'in Terakhir Wafat

Biografi Khalaf bin Khalifah - Tokoh Tabi'in Terakhir WafatTabi'in yang paling akhir wafatnya ialah Khalaf bin Khalifah (wafat tahun 181 Hijriyah), karena ia sempat berjumpa dengan Abu Tufail di Makkah. Dengan demikian, periode tabi'in berakhir tahun 181 Hijriyah bersamaan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (170-194 Hijriyah) dari Bani Abbas.

Secara kebahasaan, tabiin merupakan bentuk jamak dari tabi' artinya yang mengikuti. Orang-orang atau orang-orang Islam yang pernah berjumpa dengan sahabat Nabi Muhammad SAW dan meninggal dalam keadaan iman.

Menurut Al-Khatib al Baghdadi (sejarawan dari Baghdad yang hidup pada abad ke-4 hijriyah), seorang muslim dapat dikatakan sebagai tabiin jika pernah bersahabat Nabi SAW, jadi bukan sekedar pernah berjumpa saja. Para ulama ahli hadis membagi generasi tabiin ini dalam beberapa tingkatan (tabaqat) berdasarkan kualitas sahabat yang pernah dijumpainya.

Ibnu Sa'ad, misalnya, mengelompokkan tabiin dalam 4 tabaqat, sedangkan Al-Hakim mengelompokannya dalam 15 tabaqat. pengelompokkan tabaqat tabiin sangat relatif dan lebih sulit serta berbeda pengelompokkan tabaqat sahabat yang didasarkan atas keikut sertaannya pada peristiwa peristiwa penting yang dialami Rasulullah SAW.

Untuk tabaqat pertama, para ulama sepakat memberi batasan bahwa mereka adalah tabi'in yang pernah berjumpa dan bersahabat dengan sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulullah SAW akan masuk surga. Mereka itu adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa'id bin Abi Waqqas, Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Mereka yang dipandang sebagai tabi'in tabaqat pertama di antaranya Abu Usman an-Nahdi, Qais bin Abbad, Abu Husain bin Munzir, Abu Wa'il dan Abu Raja' at-Taridi. Tabi'in yang diketahui paling dulu meninggal adalah Abu Zaid Ma'mar bin Zaid (wafat tahun 30 Hijriyah).

Tabaqat Tabi-in yang paling akhir, menurut pandangan al-Hakim, ialah tabi'in yang sempat berjumpa atau melihat sahabat paling akhir dan menyaksikan wafatnya sahabat tersebut (man laqiya akhiras shahabata mautan (siapa yang melihat/menyaksikan paling akhir wafatnya seorang sahabat). Mereka yang termasuk tabi'in tabaqat terakhir ialah tabi'in yang berjumpa dengan Abu Tufail Amir bin Wa'ilah di Mekah yang berjumpa dengan as-Saib di Madinah yang berjumpa dengan Abu Umamah di Syam (Suriah) yang berjumpa dengan Ubaidilah bin Abi Aufa di Kufah yang berjumpa dengan Anas bin Malik di Basra dan berjumpa dengan Abdullah az-Zubaidi di Mesir.

Tabi'in yang paling akhir wafatnya ialah Khalaf bin Khalifah (wafat tahun 181 Hijriyah), karena ia sempat berjumpa dengan Abu Tufail di Makkah. Dengan demikian, periode tabi'in berakhir tahun 181 Hijriyah bersamaan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (170-194 Hijriyah) dari Bani Abbas.

Di antara tabi'in yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa'id bin Musayyab, Nafi' Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa'id bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu'man bin Sabit. Sa'id bin Musayyab lahir pada tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di bidang hadis dan fikih.

Nafi' Maula bin Amr (wafat 117 Hijriyah) pada mulanya adalah hamba Ibnu Umar yang mengabdi kepada majikannya selama tiga tahun sebelum dimerdekakan. Imam Malik bin Anas adalah sahabat dekat Nafi'. Imam Malik berkata, ''Jika aku menerima hadis dari Nafi' dari Ibnu Umar, aku tidak perlu mendengarnya lagi dari orang lain.'' Dengan demikian, Imam Malik yakin betul dengan setiap hadis yang diriwayatkan Nafi'. Ia juga dikenal sebagai rawi (periwayat) hadis dan ulama fikih Madinah.

Muhammad bin Sirin adalah anak seorang maula (hamba yang kemudian) dimerdekakan) Anas bin Malik. Ia lahir dua tahun sebelum berakhirnya pemerintahan Usman bin Affan (32 Hijriyah) dan wafat pada tahun 110 Hijiyah. Ia termasuk ulama fikih di Madinah di samping rawi hadis yang dipercaya.

Yusuf al-Qaradawi Tokoh Cendekiawan Muslim Mesir

Yusuf al-Qaradawi Tokoh Cendekiawan Muslim Mesir

Yusuf al-Qaradawi - Cendekiawan Muslim Mesir Meninggal DuniaSyekh Dr. Yusuf al-Qaradawi (lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir, 9 September 1926; umur 92 tahun) adalah seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir. Ia dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Selain sebagai seorang Mujtahid ia juga dipercaya sebagai seorang ketua majelis fatwa. Banyak dari fatwa yang telah dikeluarkan digunakan sebagai bahan Referensi atas permasalahan yang terjadi. Namun banyak pula yang mengkritik fatwa-fatwanya. Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta Sungai Nil, pada usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur'an. Menamatkan pendidikan di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru ia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian disempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat komprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya. Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam "pendidikan" penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun. Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rezim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika. Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, orang-orang bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam. Yusuf al-Qaradawi Tokoh Cendekiawan Muslim Mesir meninggal pada 26 September 2022.

Profil Ustadz Hanan Attaki (UHA) Ustadz Muda Gaul

Profil Ustadz Hanan Attaki (UHA) Ustadz Gaul Kalangan Anak MudaTengku Hanan Attaki yang lahir 31 Desember 1981 di Aceh merupakan seorang penceramah. Ustad Hanan Attaki atau UHA adalah anak kelima dari enam bersaudara. Sejak kecil ia sudah dekat dengan Al-Qur'an. Hanan Attaki sering mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur'an dan menjuarainya.

Usai menyelesaikan sekolah di Pondok Pesantren Ruhul Islam Banda Aceh, Hanan Attaki melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar di Kairo Mesir. UHA kuliah di jurusan Tafsir Al-Qur'an, Fakultas Ushuluddin Al-Azhar. Disela kesibukan kuliah, dia aktif di kelompok studi Al-Qur'an dan ilmu-ilmu Islam.

Hanan Ataki pernah menjadi pemimpin redaksi buletin Salsabila. Ustad gaul ini juga pernah mengisi acara tilawah di beberapa stasiun tivi. Tahun 2005 Uha menjadi qori terbaik fajar tv kairo. Usai terima gelar LSi dari Al Azhar, Hanan Attaki kembali ke Indonesia menetap di Bandung bersama istri dan anaknya.

Setelah kembali dari Al-Azhar, Hanan Attaki bekerja sebagai pengajar SQT Habiburrahman dan Jendela Hati, Dia jadi Direktur di Rumah Qur'an Salman ITB, dan mendirikan Shift Pemuda Hijrah. Sejak saat itu, Hanan Attaki aktif berdakwah dikenal sebutan UHA yang identik dengan jemaah muda.

Pembawaannya saat ceramah dikenal santai, tetapi sampai ke hati jemaah. Sehingga banyak anak muda yang senang dengan ceramahnya. Pengajian Ustadz Hanan Attaki di sebuah Masjid di Madura pernah dibubarkan oleh Banser NU bersama dengan warga pada Minggu 12/2/2023.

Pada hari Kamis (11/5/2023) malam, dikabarkan Ustaz Hanan Attaki dibaiat menjadi warga NU yang dilakukan di sela Haul Pondok Pesantren Sabilur rosyad Gasek Malang. Prosesi baiat tersebut dibimbing langsung pengasuh pondok pesantren tersebut, yaitu Kyai Haji Marzuki Mustamar.

Profil Dennis Bradley atau Abu Aminah Bilal Philips

Profil Dennis Bradley atau Abu Aminah Bilal Philips

Biografi Dennis Bradley atau Abu Aminah Bilal PhilipsAbu Ameenah Bilal Philips, (lahir Dennis Bradley Philips, 1946) adalah seorang guru Muslim Kanada, pembicara, dan penulis yang tinggal di Qatar. Dia muncul di Peace TV, yang merupakan saluran TV satelit Islam 24 jam. Dia menganggap dirinya seorang Salafi yang menganjurkan bentuk Islam tradisional dan harfiah. JM Berger, menggambarkannya sebagai contoh dari seorang pengkhotbah dan pemimpin opini dari dunia Muslim "yang jelas percaya dan berkhotbah dalam sering mengaduk-aduk istilah bahwa peradaban Barat ada dalam konflik tajam dengan peradaban Islam, tetapi yang ... berhenti dari kekerasan yang mendukung secara terbuka . "

Karena apa yang disebut oleh para kritikus "pandangan ekstremis", Philips telah dilarang memasuki Inggris, Australia, Denmark dan Kenya, dilarang masuk kembali ke Jerman, diperintahkan untuk meninggalkan Bangladesh, dan ditangkap di Filipina karena "menghasut dan merekrut orang untuk melakukan kegiatan teroris." Philips telah menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa ia seorang moderat yang melakukan tidak mendukung terorisme atau penggunaan bom bunuh diri dalam Islam. Beberapa pendukung hak-hak sipil membela Philips dan mengkritik deportasinya, mengklaim bahwa dia sedang dianiaya secara agama.

Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak. Sebelum menjadi muslim, Philips menganut musik dan cinta sebagai agamanya. Dibesarkan dalam kultur musik Jamaika kental membuat ia memilih menjadi gitaris. Di kesengsem Jimi Hendrix dan Bob Marley. Saat berkuliah di Universitas Simon Frasier, Kota Vancouver, Kanada, dia kerap ngamen di klub dan kafe mempertontonkan kemahirannya bermain musik.

Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad. Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama rahmatan lil alamin ini. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda sumpah serta pengakuan keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusanNya.

Beliau adalah salah seorang da’i senior yang menyeru kepada al-Qur’an dan asSunnah serta madzhab salaf yang terkenal di Eropa. Beliau lahir di Jamaika namun tinggal dan besar di Kanada. Beliau masuk Islam pada tahun 1972. Pada tahun 1979, beliau menyelesaikan program diploma bahasa Arab di Fakultas Ushulud Dien, Universitas Islam Madinah. Beliau menyelesaikan gelar magisternya di Fakultas Tarbiyah Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan gelar doktoralnya sebagai Ph.D (Doctor of Phylosophy) pada tahun 1994 di Universitas Wales.

Beliau pernah mengajar di sekolah swasta di Riyadh lebih dari 10 tahun, dan selama 3 tahun beliau pernah mengajar di Jurusan Pendidikan Islam, Universitas Islam Syarif Kabunsuan di Kotabato, Mindanao, Filipina. Semenjak tahun 1994, beliau mendirikan dan memimpin Pusat Informasi Islam di Dubai, Uni Emirat Arab dan Departemen Literatur Asing Darul Fatah Islamic Press di Sharjah, Uni Emirat Arab. Beliau memiliki banyak karangan dan tulisan yang sangat bermanfaat. Beliau adalah orang yang sangat tawadhu’ dan lapang dada di dalam menerima masukan dan kritikan.

Beberapa fitnah dari sebagian salafiyun menimpanya dan menuduhnya dengan tuduhan yang bermacam-macam, mulai dari tamyi’, quthbiy, ikhwaniy, dan semisalnya. Namun, amal dan tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan itu pada hakikatnya tidaklah benar. Dan apabila benar, maka beliau akan menerimanya dengan lapang dada dan ruju’ darinya… Kami pernah menanyakan perihal al-Ustadz Abu Aminah hafizhahullahu kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullahu (beliau sering memberikan ceramah di Eropa dan pernah bertemu dengannya) pada saat kami berada di mobil ketika akan pergi ke Masjjid al-Muhajirin Malang beberapa waktu silam.

Kami bertanya kepada beliau, “wahai syaikh apakah Anda mengenal Abu Aminah Bilal Philips, salah seorang dari Kanada?”. Beliau menjawab, “na’am…” Kami bertanya lagi kepada beliau, “bagaimana pandangan Anda terhadap beliau?”, maka syaikh menjawab, “Jayyid, seorang yang baik…”, Kami bertanya kembali, “apakah dia ahlus sunnah salafiy?” syaikh menjawab, “thab’an (tentu), salafiy jayyid…”, Kami kembali menukas kepada beliau, “karena banyak fitnah dan tuduhan yang menimpa dirinya dan disebarkan di internet…”,

Syaikh tersenyum dan berkata yang intinya menasehatkan supaya kami tidak terlalu ambil pusing dengan fitnah-fitnah di internet, kemudian beliau menceritakan keadaan dakwah salafiyah di Eropa yang tidak jauh beda dengan Indonesia… Selain Ustadz Abu Aminah, kami juga menanyakan tentang Ustadz Abu Saifillah dari Luton-Inggris dan Ustadz Abu Usamah adz-Dzahabi dari QSS (Qur’an Sunnah Society), Toronto Kanada. Dan beliau memuji semua orang-orang ini. Falillahil Hamdu.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik